<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d12783071\x26blogName\x3dAnne+Ahira,+Elite+Team+Indonesia+dan+...\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://ffsi-indonesia.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://ffsi-indonesia.blogspot.com/\x26vt\x3d-5448299029873099293', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Tuesday, June 28, 2005

Menilik Internet Marketing dari Dekat

Oleh Anne Ahira

Tidak dapat dipungkiri lagi, masa depan internet marketing secara global sangat cerah. Penelitian terakhir dari Forrester Research (lembaga riset teknologi independen yang berpusat di Cambridge, Massachusetts) mengungkapkan bisnis internet marketing yang saat ini bernilai 95 milyar US$, diperkirakan pada tahun 2008 pertumbuhannya akan mencapai 230 milyar US$. Artinya dalam kurun 3 tahun mendatang pertumbuhan internet marketing meningkat sekitar 140%.

Di negara maju, internet telah digunakan untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakatnya. Internet telah mentransformasi transaksi dan promosi bisnis konvensional. Optimalisasi pemanfaatan internet bukan saja dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar, tetapi juga
pemilik usaha kecil dan menengah, bahkan usaha individual.

Sedangkan di negara berkembang, internet baru digunakan sebatas untuk akses informasi dan berkomunikasi. Untuk pengembangan bisnis, baru perusahaan-perusahaan besar saja yang mengoptimalisasi penggunaannya.

Oleh sebab itu, pada Desember 2003 lalu, Indonesia turut menandatangani deklarasi World Summit on the Information System (WSIS) di Geneva. Deklarasi yang bertujuan penyempitkan kesenjangan negara maju dan berkembang tersebut, menyatakan komitmen mewujudkan
target akses internet pada 50% penduduk dunia di tahun 2015.

Saat ini, menurut data Internet World Stats hingga bulan Maret 2005, baru sekitar 7% penduduk Indonesia atau 15,3 juta orang yang menjadi pengguna internet. Sedangkan jika diasumsikan pada tahun 2015 jumlah penduduk Indonesia mencapai 250 juta jiwa, berarti
penetrasi internet sekurangnya harus menjangkau 125 juta orang. Artinya dalam waktu 10 tahun ke depan, pertumbuhan internet harus melebihi 700%.

Ini berarti pe-er besar bukan saja untuk pemerintah, tetapi juga sektor swasta dan masyarakat. Tidak saja dari segi infrastruktur dan teknologinya, tetapi juga peraturan perundangan dan regulasi yang berkaitan dengan teknologi informasi serta bisnis yang terkait dengannya juga perlu dipersiapkan.

Menilik data IDC (lembaga riset industri teknologi dan telekomunikasi global) April 2004, ada lebih dari 1,9 juta UKM (Usaha Kecil Menengah) yang mewakili 99,97% dari jumlah total
perusahaan yang ada di Indonesia. Namun, baru 27% UKM yang menerapkan komputerisasi. Hal ini membuat Indonesia berada di urutan kedua terendah untuk komputerisasi UKM di Asia Pasifik. Bandingkan dengan Thailand (57%), Filipina (57%) dan Malaysia (61%).

Artinya jangankan komputerisasi dan akses internet, kesadaran mengembangkan bisnis melalui internet marketing pada masyarakat Indonesia saja masih sangat rendah. Padahal jika kesadaran internet marketing ini tumbuh, UKM yang ada Indonesia bisa mengembangkan
pasarnya ke mancanegara dan memaksimalkan keuntungan mereka dengan biaya yang relatif sedikit dibandingkan mengembangkan bisnis secara konvensional. Dan seandainya UKM ini berhasil mengembangkan bisnisnya ke pasar global, berarti juga pertumbuhan ekonomi nasional dan kesejahteraan rakyat juga semakin meningkat.

Di Indonesia, internet marketing akhir-akhir ini menjadi banyak pembicaraan orang. Kebetulan saya merupakan salah satu praktisi pebisnis online yang sering diperbincangkan oleh banyak media masa. Bahkan juga memicu kontroversi atas `kesahan' bisnis yang saya jalani. Kontroversi ini sempat mendorong Amalia E. Maulana menulis artikel berjudul "Evaluasi Bisnis Anne Ahira" dalam majalah SWA (Edisi 09/28 April-11 Mei 2005). Dalam analisa yang tajam dan cerdas dari seorang kandidat doktor marketing dari UNSW Australia ini, terungkap kekhawatiran kontroversi ini akan berbuntut pada nama buruk internet marketing itu sendiri dan berakibat pada terhambatnya penetrasi internet di Indonesia.

Selama ini memang banyak orang yang menganalisa tanpa bukti yang kuat ataupun mengerti tentang internet marketing itu sendiri di `forum tidak resmi' seperti mailing list dan blog. Hal itu menjadi tantangan bagi saya untuk memberikan informasi lebih jelas kepada masyarakat luas agar tidak salah mengerti tentang internet marketing secara global dan khususnya terhadap apa yang saya kerjakan.

Sebenarnya internet marketing dapat diterapkan bukan hanya oleh UKM yang menghasilkan produk dan jasanya secara swadaya. Individu- individu dari berbagai profesi pun sebenarnya bisa menciptakan produk atau jasa sendiri dan memasarkannya di internet. Di Amerika
misalnya, teman saya, Jermaine Griggs, seorang guru piano bisa berpenghasilan ratusan ribu dollar dari bisnis online. Dia menjual paket tutorial bermain piano dengan metode mendengarkan yang mudah dipelajari oleh segala usia dan tidak memerlukan pengalaman
bermusik.

Contoh lainnya adalah seorang mahasiswa perfilman yang berusia kurang dari 30 tahun menjadi online entrepreneur sukses berkat bukunya "Selebrity Black Book". Dari hobinya berburu
merchandise yang ditandatangani para selebriti, dia kemudian menulis buku yang berisi puluhan ribu alamat kontak selebriti, olahragawan, pemimpin dunia, serta orang-orang terkenal lainnya. Target yang ditujunya adalah para fans, organisasi nirlaba yang membutuhkan merchandise selebriti untuk dilelang, atau perusahaan-perusahaan yang memerlukan endorsement penjualan produk dari selebriti.

Masih banyak lagi cerita-cerita sukses pebisnis online yang dalam waktu dekat akan saya luncurkan di Asian Brain Internet Marketing Center, yang akan menjadi pusat pembelajaran internet marketing secara online pertama di Indonesia. Diharapkan cerita-cerita sukses
pebisnis online kelas dunia dan strategi bisnisnya bisa menjadi role model bagi masyarakat Indonesia yang hendak terjun ke bisnis online.

Sedangkan bila seseorang yang ingin terjun di bisnis online namun tidak memiliki produk atau jasa untuk dijual, sebenarnya masih bisa berpeluang memperoleh penghasilan yaitu dengan mengikuti program affiliate. Pada intinya, program ini bertujuan memberi persentase
hasil penjualan kepada seseorang jika dia berhasil menjual produk atau jasa suatu affiliate merchant (pemilik produk/jasa yang dipasarkan). Pembayaran komisi ini tergantung dari penawaran dan perjanjian antara seorang affiliate marketer dengan affiliate merchant. Ada yang berupa pay per sale, pay per lead, pay per click, pay per search, ataupun kombinasinya (hybrid program).

Selain itu, situs-situs pribadi dan weblog atau blog yang sekarang tengah mewabah di kalangan pengguna internet juga bisa berpeluang memberikan penghasilan bagi pemiliknya. Caranya dengan memberikan ruang bagi sponsor ataupun sponsor link (adsense) yang didukung oleh
search engine. Memang komisi yang diberikan oleh search engine ini adalah komisi ;recehan' (kalau tidak mau menyebutnya sangat kecil).

Tetapi jika situs tersebut memiliki traffic yang tinggi dan bisa membidik target market yang tepat, dari pengalaman saya penghasilan yang bisa didapatkan bisa mencapai lebih dari 10 juta rupiah per bulan.

Dan jika seorang blogger bisa menciptakan blog yang `menjual' seperti `ArtOfSpeed', `Jalopnik' dan `Gizmodo' yang dibuat blog publisher Gawker Media, bukan tidak mungkin bisa menarik sponsor sekelas Nike dan Audi. Kabarnya, nilai sponsor deal ini mencapai $ 25,000 per bulan. Jelas ini menunjukan bahwa internet marketing merupakan peluang bisnis yang bagus jika kita tahu bagaimana cara menjalankannya.

Jenis bisnis online lainnya selain `affiliate program' adalah e-network marketing atau e-mlm. Jenis bisnis inilah yang sering memicu kontroversi, termasuk terhadap bisnis yang saya jalani. Belakangan memang saya gencar diliput berbagai media massa dan yang paling banyak dibicarakan adalah bisnis network marketing saya.

Jika Amalia E. Maulana menilai seharusnya saya menyebut bisnis network marketing yang saya jalani sebagai e-mlm, itu memang benar. Karena saya memasarkan bisnis network marketing ini melalui internet. Tetapi saya selalu menyebut profesi saya sebagai internet marketer dan jenis bisnis saya adalah internet marketing. Karena saya menjalankan berbagai macam bisnis, bukan hanya e-mlm, tetapi juga affiliate business. Saya juga menjadi konsultan bagi mereka yang hendak memasarkan produknya di internet dan menjadi pembicara seminar yang diadakan secara online conference ke berbagai negara khususnya tentang affiliate tips dan online marketing strategy.

Setiap kali saya diwawancara oleh media massa, saya selalu menjelaskan secara gamblang apa saya kerjakan. Bahkan saya sering mengajak wartawan untuk duduk bersebelahan dengan saya dan memperlihatkan kepada mereka kegiatan online saya. Mereka paham yang saya kerjakan meliputi berbagai macam bisnis online, sehingga cocok dikatakan sebagai internet marketing. Tidak jarang media menyebutkan bisnis yang saya kerjakan ada dua macam, yaitu affiliate marketing dan network marketing.

Sedangkan jika berbicara tentang salah satu bisnis saya, tentu tidak akan terlepas dari FFSI (Financial Freedom Society Inc.). Karena produk dan jasa yang saya pasarkan adalah berasal dari perusahaan yang telah berdiri selama 8 tahun di Amerika. Perusahaan ini didirikan oleh Kelly Reese, seorang konsultan keuangan dan praktisi bisnis yang telah berpengalaman lebih dari 30 tahun. Kelly Reese melihat fenomena kurangnya kesadaran masyarakat dalam mengelola keuangan dan waktu yang baik. Sehingga banyak orang yang hidupnya setiap bulan dari tagihan ke tagihan. Bahkan tak jarang faktor keuangan juga menjadi pemicu retaknya rumah tangga dan penyebab kebangkrutan suatu bisnis.

Oleh sebab itu, FFSI mempunyai misi memperbaiki kesehatan keuangan masyarakat dengan menyediakan pendidikan/pelatihan pengelolaan keuangan, perangkat (tools) manajemen uang dan waktu serta layanan konsultasi kesehatan fisik dan mental dari para profesional untuk
menghemat uang dan waktu.

FFSI merupakan perusahaan yang tergabung dalam Better Business Bureau dan US Chamber of Commerce serta memiliki legal counsel yang berpengalaman 29 tahun di bidang industri direct selling dan network marketing. Jadi kalau memang bisnis FFSI ini berskema piramida atau money game, tentu perusahaan ini tidak akan terdaftar di dua lembaga tersebut. Dan memang betul, untuk pembayaran komisi e-mlm hanya diberikan hanya sampai 4 level dan bukan endless chain. Jadi jelas tidak termasuk skema piramida (pyramid scheme).

Sedangkan program pay plan FFSI jika dilihat di situsnya , maka FFSI memberikan tiga pilihan kepada representative. Mereka bebas memilih menjual produk dan jasa FFSI secara direct marketing, affiliate marketing atau network marketing (e-mlm). Jadi jika dikatakan bisnis FFSI adalah e-mlm saja, tidaklah tepat.

Selama ini banyak orang yang salah paham dengan produk dan jasa yang dipasarkan bisnis ini. Mereka menganggap biaya keanggotaan yang mereka keluarkan itu hanya untuk sebuah materi pelatihan berbentuk e- books. Padahal sebenarnya seseorang yang membeli membership atau
keanggotaan FFSI, berhak mendapatkan produk dan jasa antara lain berupa: "The Art of Achieving Financial Freedom" e-Course karya Kelly Reese; web conference; perangkat manajemen keuangan atau money tools (software Debt Elimination Avalanche System, Financial
Planning Calculator, Electronic Budget); perangkat manajemen waktu atau time tools (software Task Manager, Project Manager, Appointment Manager, Contact Manager); 24 hours Nurse Advice Line; Health Information Library; dan Medical Record Storage.

Di samping itu, mereka juga mendapatkan layanan konsultasi kesehatan e-Doctor. Dalam layanan ini, seseorang bisa berkonsultasi melalui e- mail dengan dokter-dokter di Amerika yang tergabung dalam American Board of Medical Specialities. Cocok bagi orang Indonesia yang ingin
memperoleh second opinion dari sumber terpercaya tanpa harus membuang waktu dan uang untuk terbang ke Amerika. Selain itu, mereka juga bisa menyertakan foto luka atau hasil rontgen untuk keperluan diagnosa.

Bukan hanya kesehatan fisik saja yang diperhatikan. Kesehatan mental juga mendapat perhatian penuh melalui layanan konseling yang disediakan FFSI. Masalah yang dikonsultasikan dengan para profesional berpengalaman ini bisa bermacam-macam. Misalnya masalah di dalam rumah atau kantor; melepaskan diri dari ketergantungan obat- obatan terlarang, alkohol atau rokok; gangguan emosional; dan lain- lain.

Seperti layaknya produk dan jasa yang dijual melalui internet lainnya, FFSI juga memberikan masa uji coba 10 hari bagi para anggota. Jika telah mengevaluasi selama batas waktu yang diberikan dan ternyata anggota yang baru bergabung tidak tertarik maka FFSI akan mengembalikan uang mereka 100%. Jadi, bisnis ini sendiri telah menjalankan aturan yang seharusnya, seperti perihal masa uji coba yang diuraikan Amalia. Sedangkan mengenai mahal atau tidak, terpakai atau tidak produk dan jasanya, seperti yang Amalia ungkapkan hal
tersebut relatif bagi masing-masing orang.

Khusus untuk menjual keanggotaan FFSI ini saya menciptakan sistem marketing sendiri yang saya sebut "Elite Marketing System". Dalam sistem ini saya memberikan "30 Days Training" yang saya berikan kepada anggota Elite Team -komunitas anggota FFSI yang bergabung dalam sistem yang saya buat- dan ini bukanlah merupakan bagian dari produk dan jasa FFSI yang dijual. Materi pelatihan "30 Days Training" merupakan bonus atau hadiah yang saya berikan gratis khusus bagi anggota Elite Team. "30 Days Training" ini berisi materi pelatihan tentang internet marketing secara detil yang dikirim melalui e-mail. Misalnya bagaimana cara berpromosi melalui internet, bagaimana meningkatkan arus pengunjung ke situs kita,
bagaimana strategi bidding di Google, dll. Karena sebenarnya, seseorang tidak cukup hanya memiliki situs dan berharap pengunjung datang dengan sendirinya. Dan bila mau, anggota bisa saja menerapkan ilmu dalam pelatihan '30 Days Training' tersebut pada bisnis lainnya, misalnya pada affiliate program.

Jika melihat uraian produk dan jasa FFSI di atas, maka jelas tidak benar bila seseorang beranggapan bahwa FFSI tidak ada produknya sama sekali seperti anggapan banyak orang selama ini. Dalam dunia marketing kita tahu ada produk yang dipasarkan yang berbentuk 'tangible' dan 'intangible'. FFSI merupakan sebuah perusahaan yang memasarkan 'intangible product'.

Lebih lanjut, Amalia E. Maulana juga telah menerangkan dengan jelas mengenai spamming. Dan memang benar, baik saya maupun FFSI melarang keras tindakan ini. Dan bagi yang melanggar akan dikenakan sanksi dikeluarkan dari keanggotaan Elite Team dan FFSI, kehilangan segala
komisi dan tidak bisa mengklaim meminta pengembalian uang. Bagaimanapun internet adalah jantung dari bisnis ini.

Tetapi walaupun sudah memberi peringatan keras, saya akui pada praktek di lapangan sulit mengontrolnya jika tanpa bantuan laporan dari masyakarat. Karena itu saya akan merasa berterima kasih jika masyarakat membantu melaporkan anggota Elite Team yang melakukan
spam melalui e-mail admin@eliteteammarketing.com, berikut bukti e- mail spam-nya.

Tetapi sebelum mengatakan seseorang melakukan spamming, perlu dikenali dulu apa yang dimaksud dengan spam. Spam didefinisikan sebagai e-mail komersial yang tidak diinginkan (unsolicited commercial e-mail). Artinya pengiriman segala pesan e-mail kepada orang-orang yang tidak dikenal secara pribadi oleh seseorang adalah spam, kecuali itu merupakan respon spesifik atas permintaan informasi. Maksudnya jika seseorang datang ke sebuah website dan
meminta informasi, kemudian pemilik website memberikan informasi maka e-mail itu tidak bisa disebut spam. Karena sering kali banyak orang mengeluh dikirimi spam, padahal ia sendiri yang meminta informasi tersebut.

Jadi bisa disimpulkan bahwa pertama, masa depan internet marketing sangat cerah dan dapat mendorong penetrasi internet, pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat serta mengembangkan UKM Indonesia ke mancanegara. Kedua, internet marketing dapat dimanfaatkan oleh siapa saja, tak terbatas pada perusahaan besar. Tetapi juga bisa dijalankan oleh UKM dan individual. Ketiga, ada berbagai jenis bisnis online yang bisa dijalankan. Di antaranya, affiliate program, blogging dan e-network marketing. Keempat, bisnis e-network marketing FFSI yang saya jalankan bukan berskema piramid. Seperti yang diuraikan Amalia E. Maulana komisi dibayarkan hanya sampai 4 level saja, dan bukannya endless chain. Kelima, tidak benar bahwa bisnis FFSI tidak memiliki produk dan jasa. Dan biaya keanggotaan yang dikeluarkan bukanlah untuk mendapatkan e-books materi pelatihan. Materi pelatihan diberikan secara gratis. Selain itu kami memberikan masa waktu uji coba selama 10 hari bagi anggota
yang baru bergabung. Keenam, sudah jelas peraturan Elite Team dan FFSI mengenai larangan spamming. Untuk itu kami memohon bantuan laporan dari masyarakat jika ada anggota yang melanggarnya dengan disertai bukti e-mail spam-nya. Terakhir, saya merasa bangga dan
berterimakasih bisnis saya dianalisa secara tajam dan cerdas oleh seorang kandidat Ph.D dari universitas ternama di Australia. :-)

Semoga saja dengan maraknya pemberitaan seputar internet marketing ini, justru bisa mendorong penetrasi internet di Indonesia serta menumbuhkan minat masyarakat dan UKM untuk mengembangkan usahanya secara global.

Anne Ahira
CEO of Asian Brain, LLC (Limited Liability Company)
and PT. Asian Brain Internet Marketing Center

2 Comments:

At 11:23 PM, Blogger mikeprice04203522 said...

St0ck For Your Review - FCPG

Current Profile
Faceprint Global Solutions (FCPG)
Current Price $0.15


A U.S. based-company dedicated to the goal of
bringing effective security solutions to the marketplace.

With violent and white-collar terrorism on the rise,
companies are starving for innovative security solutions.

FCPG is set to bring hot new security solutions to
the industry, with currently over 40 governmental and
non-governmental contracts, being negotiated.

Please Review Exactly What this Company Does.

Why consider Faceprint Global Solutions (FCPG)?

Faceprint Global Solutions (FCPG) holds the exclusive
marketing rights from Keyvelop, to sell the world�s
leading encryption technology to be distributed directly
to the Healthcare industry in North America.

Faceprint Global Solutions has completed its biometric
software that recognizes facial features of individuals
entering and leaving through airports, ship yards, banks,
large buildings, etc.

FCPG acquired Montreal-based Apometrix Technologies,
which enhances the companies mission of being a
full-service provider to the multi-application smart
card industry. The North American market appears ready
for significant expansion of price-competitive, proven,
multi-application solutions on smart cards. Apometrix's
forecast of over 300 customers and sales of more than $50
million in North America over the next five years, appears
very realistic, according to company management.

Faceprint Global Solutions is currently in contract negotiations
with over 40 governmental agencies and businesses seeking to use
their encryption, biometric, and smart-card technologies.

Breaking News for Faceprint Global Solutions (FCPG)

Faceprint Global Solutions (FCPG) is pleased to announce that
IBM will now offer the world�s leading encryption software to
its major Healthcare clients in North America.

With FCPG owning the exclusive North American rights to distribute
the worlds leading encryption and transmission software developed by
Keyvelop, FCPG is poised to capture large volumes of sales generated
by customers currently using IBM�s software in the healthcare and other industries.
�This is a very positive move for FCPG and for Keyvelop,� said FCPG
CEO Pierre Cote. �We are very happy about the decision to go with IBM.
This is a continuation of the progress made by everyone associated
with FCPG and its partners.�

Buell Duncan, IBM's general manager of ISV & Developer Relations commented,
�Collaborating with Keyvelop will ensure that we develop open solutions
that are easy to maintain and cost effective for our customers in the
healthcare and life sciences industry.�

Among other things, this new software technology which is currently
being used by a number of European healthcare companies, is used to
send any file, regardless of format or size. Encryption keys, evidence
of transmission integrity with fingerprint calculation, time-stamping
of all actions and status record updating, pre-checking sender and
receiver identities, validating file opening dates are part of Keyvelop features.
About FacePrint Global Solutions, Inc.

FCPG operates a business, which develops and delivers a variety of
technology solutions, including biometric software applications on
smart cards and other support mediums (apometric solutions). FCPG�s
products provide biometric solutions for identity authentication and a
host of smart card- and biometrics-related hardware peripherals and
software applications. Apometrix, FCPG�s wholly-owned subsidiary, combines
on-card or in-chip multi-application management solutions with best-of-breed
�in-card matching� biometrics. Keyvelop�s secure digital envelope solution
and Apometrix�s on-card biometrics work together to produce the winning
combination in the fields of security, traceability and identity management.
Conclusion:

The examples above show the Awesome, Earning Potential of little known
Companies That Explode onto Investor�s Radar Screens. This sto,ck will
not be a Secret for long. Then You May Feel the Desire to Act Right Now!
And Please Watch This One Trade!

GO FCPG!

Disclaimer:
Information within this email contains "forwardlooking statements" within
the meaning of Section 27Aof the Securities Act of 1933 and Section 21B of
the Securities Exchange Act of 1934. Any statements that express or involve
discussions with respect to predictions, expectations, beliefs,
plans, projections, objectives, goals, assumptions or future events or
performance are not statements of historical fact and may be "forward
looking statements". "Forward |ooking statements" are based on
expectations, estimates and projections at the time the statements are made
that involve a number of risks and uncertainties which could cause actual
results or events to differ materially from those presently anticipated.
We were paid a sum of three thousand USD to disseminate this information from
ir marketing. Forward loking statements in this action may be identified through
the use of words such as "projects", "foresee", "expects", "will", "anticipates",
"estimates", "believes", "understands" or that by statements indicating
certain actions "may", "could", or "might" occur. Risk factors include
general economic and business conditions, the ability to acquire and develop
specific projects, the ability to fund operations and changes in consumer
and business consumption habits and other factors overwhich the company has
little or no control. The publisher of this newsletter does not represent
that the information contained herein are true and correct.

 
At 6:52 PM, Blogger my blog said...

well white collar terrorism. This is so true.



Elite Sports International

 

Post a Comment

<< Home